Do You See What I See?

Ada kalanya kita ngeliat sesuatu yang orang lain sama sekali nggak notice, dan dari situ muncul pertanyaan legendaris: “Do you see what I see?”—kayak semacam kode rahasia buat ngecek apakah kita lagi halu bareng atau cuma kita doang yang lagi terjebak dalam momen absurd kehidupan. 

Kadang, kalimat sederhana itu bisa muncul dari hal sepele, misalnya pas kamu ngeliat pocong, kuntilanak, atau sundel bolong melotot ke arahmu kayak lagi nge-judge seluruh keputusan hidupmu, tapi temen kamu malah sibuk sama HP-nya. 

Kamu jadi meragukan diri sendiri, “itu normal nggak sih? Kamu liat juga nggak?” Dan lucunya, mayoritas drama hidup manusia itu berakar dari momen-momen kecil penuh tanda tanya kayak gitu. 

Tapi kalau kita tarik lebih jauh, “Do you see what I see?” itu bukan cuma soal penglihatan literal—ini juga soal perspektif. Dua orang bisa ngeliat satu kejadian yang sama persis, tapi interpretasinya bisa beda kayak bumi dan Pluto. 

Misalnya, kamu ngalamin hari yang menurutmu berat banget, semuanya berantakan, mood jatuh, dan kamu merasa dunia nggak memihak. Tapi di sisi lain, orang lain mungkin melihatmu sebagai sosok yang kuat, rajin, dan terlihat baik-baik aja. 

Dan di situ kadang kita baru sadar, persepsi manusia itu lucu: apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan yang mereka lihat. Kadang kita malah terlalu sibuk memperburuk bayangan sendiri sampai lupa kalau banyak orang ngeliat hal baik yang kita bahkan nggak sadar kita punya. 

Kalimat itu juga suka muncul pas kita ngerasain vibe aneh di suatu tempat. Kamu tahu kan, momen-momen dimana suasana tiba-tiba hening, angin lewat pelan, dan kamu merasa “Eh kok kayak ada yang ngeliatin?” Tapi temenmu malah cuek jalan duluan. 

Kamu jadi maju-mundur antara mau percaya firasat atau mau pura-pura nggak ada apa-apa demi harga diri. Jujur aja, insting manusia itu sering lumayan akurat—kadang kita memang menangkap hal-hal kecil yang orang lain lewatin. 

Entah itu energi sebuah ruangan, nada suara seseorang, atau perasaan kalau ada sesuatu yang “nggak kelar” di balik senyum yang kelihatan normal. 

Yang paling menarik, “Do you see what I see?” sering muncul dalam hubungan manusia—baik itu pertemanan, keluarga, atau cinta-cintaan. Ada masa dimana kamu berharap seseorang melihat usahamu, perasaanmu, atau sinyal-sinyal yang udah kamu lempar kayak lampu neon berkedip-kedip. 

Tapi ternyata? Mereka clueless. Kamu akhirnya cuma bisa batin: “Seriusan kamu nggak liat? Padahal aku udah kasih tanda gede banget.” Ada juga momen sebaliknya, dimana orang lain berharap kamu ngerti maksud mereka tanpa mereka ngomong, dan kamu cuma bisa bengong. Komunikasi itu tricky—kadang kita merasa pesan kita udah jelas, padahal buat orang lain masih kayak puzzle tanpa gambar. 

Pada akhirnya, kalimat sederhana itu sebenarnya mengingatkan kita bahwa setiap orang punya “layar hidupnya” sendiri. Apa yang kamu lihat, rasakan, dan pahami itu dipengaruhi pengalamanmu, trauma yang kamu simpan rapat-rapat, kebahagiaan kecil yang pernah kamu dapetin, dan semua hal yang bikin kamu jadi kamu. 

Dunia setiap orang itu unik. Dan ketika kita bertanya “Do you see what I see?”, kita sebenarnya lagi ngajak orang lain buat masuk sebentar ke dunia kita, supaya mereka bisa paham perspektif kita. 

Kadang mereka bisa lihat hal yang sama. Kadang nggak. Tapi upaya buat saling memahami itu sendiri udah indah banget, kayak ngebangun jembatan di antara dua kepala dan dua hati. 

Jadi, lain kali kalau kamu ngerasa sendirian dalam ngeliat sesuatu—baik itu kejadian aneh, vibe mysterious, atau cuma perasaan yang susah dijelasin—nggak apa-apa buat nanya. 

Kadang kita cuma butuh satu orang yang jawab, “Iya, gue juga liat.” Dan momen itu aja udah cukup buat bikin dunia terasa jauh lebih ringan. #Postingan Lainnya